Karya : Aruni NaufaliaTuhan
Lihatlah aku disini
Lihat juga mereka yang disana
Dengar,apakah Kau mendengarnya?
Lihat juga mereka yang disana
Dengar,apakah Kau mendengarnya?
Adilkah ini? Lihat tubuhku ini ya Tuhan
Hanya berselimutkan kulit pemberianMu
Tapi juga penuh luka,dan ini sungguh sakit,sungguh!
Lebih terasa sakit ketika aku mengingatnya
Ini luka yang diberikan oleh Ayah dan Ibuku
Luka ini mereka berikan,
setiap kali aku tidak ingin pergi ke lorong gelap disana
Bukan, bahkan tidak.
Aku tidak pernah membenci mereka karena ini
Luka ini mereka berikan,
setiap kali aku tidak ingin pergi ke lorong gelap disana
Bukan, bahkan tidak.
Aku tidak pernah membenci mereka karena ini
‘’Diam dik,nanti terdengar ayah,sudah jangan menangis ya”.
Entah apa ini namanya,seram atau sedih?
Aku tidak terlalu kecil untuk mengetahuinya.
Bahkan mungkin orang dewasa juga, mereka tak akan mengerti.
Rengekan itu semakin keras,menyayat.
Dia bilang “ini sakit, dan aku lapar”.
Andai kau tahu,aku pun sama.
Dan kini hanya kita bertiga,aku,kau dan Tuhan.
Dia bilang “ini sakit, dan aku lapar”.
Andai kau tahu,aku pun sama.
Dan kini hanya kita bertiga,aku,kau dan Tuhan.
Aku terlalu bodoh untuk kau andalkan.
Dan kau terlalu kecil untuk melakukannya sendiri.
Bersabarlah.
Dalam hitungan hari Tuhan akan mengirimkan semua yang kau ingin.
Hari? Seberapa lama? Ah ya bodoh sekali aku berkata.
Tuhan,dengar tidak suara kelaparan dari perut kecil kami?
Pak ustad berkata “Tuhan tidak pernah tidur”
Dan aku simpan kata-kata itu di dalam hati kecilku.
Dimana kesalahanku Tuhan?
Apakah Kau tidak mencintaiku?
Seperti kau mencintai mereka?
Adil itu apa Tuhan? Inikah adil?
Melihat anak seumurku berlari keluar dari sekolah,dan di peluk hangat oleh Ibunya.
Dan sang ayah menunggu di seberang jalan untuk mengantar mereka pulang.
Itukah bahagia?
Pak ustad berkata “Tuhan tidak pernah tidur”
Dan aku simpan kata-kata itu di dalam hati kecilku.
Dimana kesalahanku Tuhan?
Apakah Kau tidak mencintaiku?
Seperti kau mencintai mereka?
Adil itu apa Tuhan? Inikah adil?
Melihat anak seumurku berlari keluar dari sekolah,dan di peluk hangat oleh Ibunya.
Dan sang ayah menunggu di seberang jalan untuk mengantar mereka pulang.
Itukah bahagia?
Apakah kau tak ingin aku ada di duniamu yang indah ini?
Mengapa Kau biarkan aku berjalan di lorong gelap.
Dengan rengekannya.
Rengekan adik kecilku,yang merintih kelaparan.
Mengapa Kau biarkan aku berjalan di lorong gelap.
Dengan rengekannya.
Rengekan adik kecilku,yang merintih kelaparan.
Lembab merah di pipi kanannya,
Mengelus lembut dengan jari kecilnya.
Bu,apakah ibu tak pernah sayang kami?
Apakah ibu tak ingin seperti yang lain?
Memeluk manja kami dan bangga ketika wanita cantik sepertimu kami panggil ‘’ibu’’
Ayah,tidak inginkah engkau memberi kami sedikit cerita tentang masa kecilmu?
Sedikit saja ayah.
Mengapa kau lebih memilih untuk menyakiti kami dengan tangan kasarmu itu?
Aku ini anakmu ayah.
Sedikit saja ayah.
Mengapa kau lebih memilih untuk menyakiti kami dengan tangan kasarmu itu?
Aku ini anakmu ayah.
Tuhan,aku berharap ini hanya mimpi
Dan esok,aku terbangun dengan ibu yang memelukku dan ayah menatap kami dengan cinta
Dia diam,adikku kini diam dan memeluk kedua lututnya.
Duduk di dekatnya,semoga dia akan tenang, kuharap.
''Apakah tuhan itu ada?’’ Bola mata yang bulat menusuk menatapku.
"Ada,percayalah. Karena Tuhan tidak akan pernah tidur’’
Membuatnya mengerti semua yang terjadi,yang akan berubah suatu saat nanti
Merubahnya dari gadis lusuh,menjadi gadis kecil cantik bergaun putri.
Dia bangkit dan tersenyum, berlari menyusuri lorong gelap
Tawanya menggema
Tuhan,tidak tidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar